Gempuran mobil listrik di pasar otomotif Indonesia kian masif dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai Macam-macam merek terutama dari pabrikan China hadir menawarkan teknologi canggih, fitur kelas atas, hingga harga yang semakin kompetitif. Tetapi di balik derasnya arus elektrifikasi, preferensi konsumen Indonesia rupanya belum sepenuhnya bergeser.
Hasil survei Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB Universitas Indonesia menunjukkan bahwa mayoritas calon pembeli mobil di Tanah Air Tetap menempatkan mobil bermesin bensin sebagai pilihan Istimewa dalam lima tahun ke depan.
Dari total 1.511 responden yang masuk kategori potential car buyers, Sekeliling 81% menyatakan tetap berencana membeli mobil bensin. Sementara kendaraan elektrifikasi yang mencakup hybrid electric vehicle (HEV), plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), dan battery electric vehicle (BEV) baru menarik minat Sekeliling 19% konsumen.
“Dari 1.511 calon pembeli mobil dalam lima tahun mendatang, 81% Tetap Mau membeli mobil bensin. Sementara pangsa mobil elektrifikasi berada di kisaran 19%,” ujar Peneliti LPEM FEB UI, Syahda Sabrina, dalam pemaparan hasil survei, Jumat (9/1/2026).
Kalau ditelaah lebih jauh, adopsi elektrifikasi di Indonesia belum sepenuhnya mengarah ke mobil listrik murni. Teknologi hybrid Bahkan menjadi pintu masuk Istimewa bagi konsumen yang mulai mempertimbangkan elektrifikasi. Minat terhadap mobil hybrid tercatat lebih tinggi dibandingkan BEV, terutama di Area Pulau Jawa.
Pola ini mencerminkan sikap kehati-hatian konsumen yang Mau menikmati efisiensi bahan bakar dan teknologi listrik, tanpa sepenuhnya meninggalkan mesin konvensional yang sudah lama mereka kenal.
Kehati-hatian serupa juga terlihat dari preferensi antara mobil baru dan bekas. Pada mobil listrik murni, hanya Sekeliling 38% responden yang menyatakan bersedia membeli unit bekas. Mayoritas konsumen BEV memilih mobil baru, seiring kekhawatiran terhadap degradasi baterai, usia Guna komponen Istimewa, serta nilai jual kembali yang belum Konsisten.
LPEM FEB UI juga mencatat adanya perbedaan tingkat pengetahuan dan kepercayaan terhadap masing-masing teknologi. Mobil bensin Nyaris dikenal secara menyeluruh oleh konsumen, Bagus di Pulau Jawa maupun di luar Jawa. Sebaliknya, meski tingkat kesadaran terhadap mobil listrik sudah cukup tinggi dan relatif merata secara nasional, tingkat kepercayaan terhadap teknologi baru ini belum sepenuhnya terbentuk.
Di tengah tekanan daya beli dan kondisi ekonomi yang menuntut kehati-hatian, konsumen Indonesia cenderung mengambil keputusan paling rasional. Risiko penurunan harga mobil listrik yang relatif Segera ketika model baru diluncurkan, ketidakpastian biaya perawatan jangka panjang, hingga kesiapan infrastruktur pengisian daya menjadi Elemen yang Tetap membayangi.
Dalam situasi seperti ini, mobil bensin dipersepsikan sebagai pilihan paling Terjamin Karena teknologinya matang, nilainya lebih Konsisten, dan biaya kepemilikan sudah terprediksi.
Survei ini menegaskan bahwa transisi menuju kendaraan listrik di Indonesia Tetap membutuhkan waktu. Meski elektrifikasi Maju berkembang, mobil bensin tetap menjadi jangkar Istimewa pasar otomotif nasional, setidaknya dalam lima tahun ke depan.
Baca Juga: Terlaris! Cek Harga 6 Mobil Listrik BYD di Indonesia, Mulai Rp300 Jutaan
Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di kediamannya di Hambalang,…
Sukabumi — Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari menegaskan pentingnya penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah…
Presiden Prabowo Subianto melantik keanggotaan Dewan Daya Nasional di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu, 28…
Presiden Prabowo Subianto memanggil sejumlah menteri Kabinet Merah Putih ke Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/01/2026).…
Banjarmasin, Mensdaily.id — Komisi II DPRD Kota Banjarmasin menggelar rapat dengar pendapat Serempak dengan pihak…
Banjarmasin, Mensdaily.id – Permasalahan pengaturan operasional rumah biliar kerap muncul setiap tahun, khususnya Demi memasuki…
This website uses cookies.