Pemerintah Indonesia mengimplementasikan kesepakatan perdagangan strategis antara Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Perkumpulan Donald Trump melalui kebijakan di sektor Daya dan sumber daya mineral yang dirancang Buat memaksimalkan manfaat bagi kepentingan nasional dan ketahanan Daya.
Menteri ESDM menjelaskan bahwa sektor Daya mendapat mandat menjaga keseimbangan neraca perdagangan melalui alokasi pembelian Daya dari Amerika Perkumpulan senilai Sekeliling USD15 miliar.
“Kita dari sektor ESDM akan membelanjakan kurang lebih Sekeliling USD15 miliar. Dari USD15 miliar ini terdiri dari membeli BBM jadi, kemudian LPG, dan crude,” tutur Bahlil dalam keterangannya kepada awak media di Washington D.C., pada Jumat, 20 Februari 2026.
Bahlil menegaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan bagian dari strategi nasional Buat menjaga ketahanan Daya dan keseimbangan neraca perdagangan, tanpa menambah ketergantungan impor, melalui optimalisasi dan penataan ulang sumber pasokan dari berbagai negara Kenalan.
“Kita menggeser sebagian volume impor kita dari beberapa negara, di antaranya negara dari Asia Tenggara, Middle East maupun beberapa negara di Afrika. Secara keseluruhan, neraca komoditas daripada pembelian BBM kita dari luar negeri itu sama, Hanya kemudian kita geser,” ucapnya.
Menurut Bahlil, mekanisme pembelian tetap mempertimbangkan prinsip keekonomian yang saling menguntungkan bagi kedua negara maupun badan usaha yang terlibat. “Dalam praktiknya nanti, pembelian ini sudah tentu akan memperhatikan mekanisme-mekanisme keekonomian yang saling menguntungkan, Bagus menguntungkan kepada pihak Amerika Perkumpulan dan badan usahanya, maupun dari pihak Indonesia,” tuturnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Primer (Dirut) Pertamina Simon Aloysius Mantiri menjelaskan bahwa Buat memenuhi kebutuhan Daya nasional, pemerintah melalui Pertamina telah merintis kerja sama dengan sejumlah Kenalan strategis dari Amerika Perkumpulan, serta menandatangani nota kesepahaman Buat pengembangan teknologi pemulihan lapangan minyak.
“Kerja sama ini Bukan hanya Konsentrasi pada peningkatan produksi tapi lebih dari itu, dari transfer teknologi, dari peningkatan kapasitas sumber daya Orang, dan tentunya dengan best Mendunia practices dalam industri minyak dan gas yang Bisa mendorong agar kita makin meningkatkan produksi,” jelasnya.
Implementasi kesepakatan dagang RI-AS ini menegaskan pendekatan pemerintah yang pragmatis dan strategis, memperkuat kemitraan Mendunia sekaligus memastikan bahwa setiap kebijakan tetap berpijak pada kepentingan nasional. Langkah ini juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam lanskap Daya Mendunia yang semakin Bergerak.
(BPMI Setpres)


