Business

Simak Elemen Lahirnya Fenomena Rojali di Indonesia

Belum lama ini, fenomena “rojali” (rombongan jarang beli) dan “rohana” (rombongan hanya nanya) ramai menjadi perbincangan publik. Istilah ini muncul akibat tingginya Nomor kunjungan mal yang Kagak berbanding lurus dengan tingkat pembelian barang. Kebanyakan dari pengunjung hanya berjalan-jalan, Memperhatikan-lihat dan bertanya mengenai suatu produk tanpa disertai aktivitas belanja.

Banyak Ahli dan publik memberikan pandangannya terkait hal ini. Terdapat yang berpendapat bahwa sumber permasalahannya berasal dari lemahnya perekonomian dan Terdapat juga yang mengatakan bahwa ini hanya bentuk pergeseran pola belanja masyarakat. Lantas apa penyebab sebenarnya?

Kepada menjawabnya, Golongan Percakapan dan Kajian Opini Publik (Kedai Kopi) telah melakukan survei terhadap 663 responden berusia 17-55 tahun yang pernah Kagak melakukan pembelian di mal dengan metode Online Computerized Assisted Self Interview (CASI) pada 14-19 Oktober 2025.

Baca Juga:  Nilai Transaksi Fulus Elektronik Sepanjang 2024 Letih Rp2,5 Kuadriliun

Sekadar Jalan-Jalan Jadi Dalih Dominan

Sekadar Jalan-Jalan Jadi Alasan Mayoritas Publik Tak Beli Barang di Mal
Sekadar Jalan-Jalan Jadi Dalih Mayoritas Publik Tak Beli Barang di Mal | Mensdaily

Hasil survei menyatakan bahwa sebanyak 60,5% responden Kagak melakukan pembelian karena tujuan utamanya ke mal hanya sekadar Ingin jalan-jalan atau healing semata. Mal adalah pusat perbelanjaan yang terdiri atas banyak sekali toko. Setiap tokonya dilengkapi dengan desain interior yang khas Tengah memanjakan mata.

Keindahan dari sisi desain dan arsitektur inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh sebagian besar publik Kepada healing di tengah kesibukan sehari-hari.

Kemudian Dalih terbanyak kedua adalah harga produk yang terlalu mahal bagi 57,3% responden. Berjualan barang di mal terkenal memerlukan modal yang besar. Salah satu biaya operasional terbesarnya berasal dari sewa gerai atau toko.

Baca Juga:  Tahun 2024, 82,4% Penerimaan Negara Berasal dari Pajak

Maka dari itu, mahalnya biaya sewa ini berdampak juga bagi tingginya harga produk, sesuatu yang sangat sulit dihindari oleh para pelaku usaha.

Selanjutnya, minimnya pemberian promo serta diskon juga jadi Dalih bagi 50,2% publik Kagak membeli barang di mal. Harga yang dianggap terlalu mahal disertai minimnya promo menjadi dua Dalih yang saling berhubungan kuat satu sama lain, berkontribusi besar terhadap penurunan daya beli masyarakat.

Lampau sebanyak 35,9% publik mengaku hanya Ingin Memperhatikan bentuk fisik dari barang yang ditemui di toko online, dan disusul adanya ketidaksesuaian antara barang dengan kebutuhan sebesar 34,1%.

Lebih lanjut, 30,5% beralasan bahwa toko online menawarkan harga yang lebih murah Kepada produk yang sama. Intervensi ini sejalan dengan pandangan yang disampaikan oleh Ekonom Universitas Gadjah Mada, Dr. I Wayan Nuka Lantara, S.E., M.Si.

Baca Juga:  20 Dafar Merek Mobil Terlaris di Indonesia 2022

“Banyak orang Memperhatikan produk secara langsung di pusat perbelanjaan, Lampau membelinya secara online karena lebih murah. Fenomena ini dikenal sebagai showrooming,” tuturnya mengutip laman Formal Universitas Gadjah Mada (22/8/2025).

Selain beberapa Dalih di atas, Lagi terdapat beberapa Dalih lainnya Adalah mal dijadikan sebagai tempat hiburan terjangkau (24,1%), Kagak cukupnya Dana yang dimiliki (22,6%), Kagak tersedianya merek yang diinginkan (22,6%), serta hanya Ingin menemani orang lain Demi berada di dalam mal (18,7%).

Baca Juga: Tergerus Toko Online, Benarkah Bisnis Mal Mulai Terperosok?

Sumber:

https://kedaikopi.co/flipbook/survei-perilaku-konsumsi-daya-beli-masyarakat-kelas-menengah/

https://ugm.ac.id/id/Informasi/fenomena-rojali-dan-rohana-ekonom-ugm-sebut-daya-beli-masyarakat-menurun-dan-perubahan-pola-konsumsi/

MensDaily hadir di tengah kesibukan dan tuntutan hidup, pria butuh ruang untuk mendengarkan, mengemukakan pendapat, dan mendapatkan inspirasi.

Get Latest Updates and big deals

    Mens Daily @2025. All Rights Reserved.