Categories: Business

Etnis Kembang Naik di Tengah Pasang Rupiah – Mensdaily.id

Mensdaily.id | Dalam peristiwa yang tak terduga, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah berani dengan Memajukan Etnis Kembang pada hari Kamis Kepada menghentikan laju penurunan nilai Salin rupiah yang tengah dirundung ketatnya kebijakan moneter Amerika Perkumpulan dan meningkatnya risiko geopolitik. Para ekonom Menyantap kemungkinan kenaikan lebih lanjut Apabila pelemahan mata Dana ini Lalu berlanjut.

Bank sentral menggenjot Etnis Kembang acuan repurchase reverse 7 hari sebesar 25 poin basis menjadi 6,00 persen, yang merupakan kenaikan keduanya tahun ini dan yang ketujuh sejak awal perjalanan kerasnya kebijakan moneter pada tahun 2022. Dua Etnis Kembang utamanya juga terdongkrak.

Demi ini, Etnis Kembang acuannya berada pada level tertingginya sejak Juni 2019.

Seluruh ekonom yang disurvei oleh Reuters sebelumnya telah mengantisipasi bahwa bank sentral akan mempertahankan Etnis Kembang tanpa perubahan.

Keputusan ini diambil ketika rupiah kembali merasakan tekanan, mencapai level terendahnya sejak tahun 2020 pada hari Kamis sebagai respons terhadap para investor yang cenderung lebih berhati-hati dengan memilih aset tempat berlindung di tengah ketatnya kebijakan moneter di negara-negara maju dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Mata Dana ini sedikit memulihkan sebagian kerugiannya setelah kenaikan Etnis Kembang.

“Kenaikan ini dilakukan Kepada memperkuat langkah-langkah stabilisasi rupiah menghadapi Akibat ketidakpastian Dunia yang meningkat, serta sebagai langkah antisipatif dan berorientasi ke depan Kepada meredakan dampaknya terhadap inflasi melalui barang-barang impor,” tegas Gubernur Perry Warjiyo.

Warjiyo mencatat bahwa sebulan sebelumnya BI telah membahas rencana pelonggaran moneter yang akan datang. Tetapi, BI mengubah jalurnya karena dinamika Dunia yang “berubah dengan sangat Segera dan sangat sulit diprediksi,” yang mendorong kenaikan harga Kekuatan dan pangan serta meredakan proyeksi pertumbuhan Dunia, ujar sang Gubernur.

Gareth Leather dari Capital Economics mengingatkan bahwa pelemahan lebih lanjut pada rupiah dapat memicu kenaikan Etnis Kembang lebih lanjut, tetapi dia juga berpendapat bahwa “Eksis kemungkinan besar ini hanya akan menjadi satu kali saja” Apabila imbal hasil obligasi AS turun dan tekanan pada rupiah mereda.

Ekonom DBS, Radhika Rao, menyatakan pendapat yang serupa.

“Dalam langkah yang mengingatkan pada posisi tegasnya pada tahun 2018, pihak berwenang kemungkinan akan tetap membuka Kesempatan Kepada menyesuaikan Etnis Kembang lebih lanjut Apabila mata Dana tetap terbebani oleh ketidakpastian Dunia, meskipun risiko inflasi domestik terkendali,” katanya.

Kendati telah mengalami depresiasi dalam periode belakangan, rupiah tetap menjadi salah satu mata Dana Asia yang menonjol, sebagian didukung oleh surplus perdagangan Indonesia.

Ketakutan terhadap utang valuta asing besar Indonesia telah Membangun para analis menyebut bahwa kelemahan rupiah ini telah Membangun BI enggan Kepada menurunkan Etnis Kembang, meskipun inflasi turun ke level terendah dalam 19 bulan pada bulan September, berada di dekat batas rendah Sasaran BI sebesar 2 hingga 4 persen Kepada tahun 2023.

Sejalan dengan kenaikan Etnis Kembang pada hari Kamis, Warjiyo mengumumkan bahwa BI akan menerbitkan surat berharga berdenominasi mata Dana asing, yang disebut SVBI dan SUVBI, dengan tujuan menarik arus modal. Sebulan sebelumnya, BI telah memulai penjualan surat berharga berdenominasi rupiah yang dapat diperdagangkan (SRBI) dengan tujuan yang sama.

Meskipun telah Memajukan Etnis Kembang, BI akan tetap mendukung pertumbuhan kredit domestik dengan melemahkan persyaratan likuiditas bagi bank dan memperpanjang kebijakan tanpa Dana muka Kepada hipotek dan pinjaman mobil hingga akhir tahun 2024, kata Warjiyo, dengan menekankan bahwa kebijakan makroprudensial BI “pro-pertumbuhan.”

“Bagi saya, sedikit mengherankan bahwa mereka Lalu melonggarkan kebijakan makroprudensial,” ujar Fakhrul Fulvian, ekonom Primer Trimegah Securities, menambahkan bahwa hal ini akan “meminimalkan” Dampak kenaikan Etnis Kembang.

Meskipun mengambil keputusan mengenai Etnis Kembang, BI mempertahankan proyeksi pertumbuhan Kepada ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini pada kisaran 4,5 hingga 5,3 persen pada tahun 2023.

Sejak Agustus 2022, BI telah Memajukan Etnis Kembang sebanyak total 250 poin basis. (red)

Admin

Recent Posts

Tetap Andalkan Mesin Impor, Indonesia Habiskan US$36 Miliar pada 2025

Nilai impor Indonesia mengalami naik 2,83% menjadi US$241,86 miliar pada Januari-Desember 2025. Sektor nonmigas mendominasi…

56 menit ago

Harga Emas Antam Melonjak Awal 2026, Tertinggi dalam 10 Tahun

Emas merupakan instrumen investasi pilihan banyak orang karena sifatnya yang Kukuh dan bernilai tinggi. Dikenal…

2 jam ago

Presiden Prabowo Tegaskan Arah Politik Luar Negeri dalam Obrolan Berbarengan Tokoh Nasional – Kantor Staf Presiden

Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan Berbarengan tokoh dan akademisi politik luar negeri di Istana Merdeka,…

4 jam ago

Presiden Prabowo Saksikan Pengucapan Sumpah Adies Kadir sebagai Hakim Konstitusi – Kantor Staf Presiden

Presiden Prabowo Subianto menyaksikan pengucapan sumpah Adies Kadir sebagai Hakim Konstitusi di Istana Negara, Jakarta,…

5 jam ago

Acuh Olahraga, Rahmat Trianto Diganjar SIWO Award HPN 2026

Tanah Laut, Mensdaily.id — Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia Muhaimin Iskandar menyerahkan penghargaan…

6 jam ago

Owner Barito Putera Berharap Pemain Konsentrasi Raih Kemenangan di Setiap Laga

Owner Barito Putera Berharap Pemain Konsentrasi Raih Kemenangan di Setiap Laga (Foto : Mensdaily.id)Banjarmasin, Mensdaily.id…

8 jam ago

This website uses cookies.