Business

Fenomena Doom Spending Ramai di Kalangan Gen Z! Bagaimana Datanya?

Fenomena doom spending semakin sering muncul dalam obrolan tentang kehidupan anak muda, terutama Generasi Z. Istilah ini terdengar keren, tapi sebenarnya menggambarkan kondisi yang cukup mengkhawatirkan. Doom spending adalah kebiasaan belanja impulsif yang muncul sebagai respons terhadap perasaan negatif seperti stres, kecemasan, atau pikiran soal masa depan yang terasa gelap. Menurut survei, Sekeliling 35% Gen Z mengaku berbelanja Buat Membangun diri mereka merasa lebih Berkualitas.

Dalam penelitian Universitas Panca Bhakti Pontianak, Elemen psikologis seperti kecemasan dan tekanan emosional, ditambah paparan media sosial yang intens, Membangun perilaku ini makin subur di kalangan Gen Z. Mereka cenderung mencari pelarian Segera, dan belanja menjadi Metode yang dianggap paling mudah Buat merasa sedikit lega, meskipun hanya sebentar.

Mengapa Gen Z Rentan Mengalami Doom Spending

Generasi Z hidup di era yang penuh ketidakpastian. Banyak dari mereka merasa masa depan sulit ditebak, mulai dari isu ekonomi, persaingan kerja, inflasi, Tiba situasi Mendunia yang sering berubah. Kondisi seperti ini memicu kecemasan yang Bukan ringan. Belanja kemudian menjadi salah satu “jalan keluar” yang memberi rasa nyaman sekejap. Hal ini diperparah oleh dunia media sosial yang seakan-akan Bukan pernah berhenti menawarkan hal baru. Paparan seperti itu Membangun mereka merasa tertinggal kalau Bukan ikut mencoba, dan akhirnya memicu perilaku konsumtif yang Bukan terencana.

Baca Juga:  Daftar 5 Perusahaan yang Mempunyai Nilai Pasar Terbesar di Dunia, Microsoft Teratas

Lebih jauh Kembali, beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendapatan yang lebih tinggi Bahkan Bisa meningkatkan kecenderungan doom spending. Dalam studi kuantitatif di Kota Tegal dengan 384 responden, ditemukan bahwa pendapatan, paparan media sosial, dan gaya hidup konsumtif berpengaruh signifikan terhadap doom spending. Gaya hidup yang sudah terbentuk di lingkungan digital juga ikut andil, karena Gen Z terbiasa dengan ritme hidup yang Segera dan Ingin serba instan. Ditambah Kembali, literasi keuangan di kalangan anak muda Bukan selalu merata. Hal ini Membangun mereka mudah tergoda promo, diskon, maupun kemudahan transaksi digital tanpa Betul-Betul mempertimbangkan Akibat jangka panjangnya.

Seperti Apa Perilaku Doom Spending Gen Z di Kehidupan Sehari-hari?

Doom spending muncul dalam banyak bentuk, dan seringkali Bukan disadari. Banyak Gen Z yang memilih menghabiskan Doku Buat pengalaman seperti Hidangan, nongkrong di kafe, hingga menonton konser yang sedang ramai dibahas. Belanja barang juga Bukan kalah Terkenal, terutama fesyen, aksesoris, atau gadget terbaru yang terlihat kece di media sosial. Layanan digital seperti streaming, game berbayar, dan konten premium juga menjadi bagian dari kegemaran mereka, karena memberikan hiburan Segera yang dianggap Bisa mengurangi stres.

Baca Juga:  Trump Ancam Tarif, Harga iPhone Bisa Naik dan Saham Apple Langsung Anjlok

Yang cukup mengkhawatirkan adalah semakin mudahnya fasilitas kredit digital seperti paylater, cicilan tanpa kartu kredit, hingga promo pembayaran instan. Kemudahan ini Membangun Gen Z Bisa membeli apa pun tanpa harus punya Doku di awal. Menurut data dari ANTARA, pembiayaan paylater melonjak pesat, salah satu laporan menyebut bahwa pembiayaan paylater naik 39,3% YoY menjadi Sekeliling Rp 8,22 triliun dalam satu periode, pada Mei 2025 silam. Meskipun fenomena ini kadang membantu menggerakkan ekonomi, terutama di sektor kreatif dan UMKM, tetap Terdapat risiko bahwa belanja impulsif ini Membangun kondisi finansial mereka Bukan Konsisten.

Intervensi Data Tentang Doom Spending

Studi dari Universitas Panca Bhakti Pontianak menyebutkan bahwa kecemasan dan intensitas penggunaan media sosial berpengaruh besar terhadap perilaku doom spending, terutama di kalangan Gen Z dan milenial. Sementara itu, penelitian dari Journal MBIA dengan 384 responden di Tegal, memperlihatkan bahwa pendapatan, media sosial, dan gaya hidup punya pengaruh Serempak-sama dalam membentuk kebiasaan ini.

Di sisi lain, survei-survei Mendunia dan lokal yang dimuat Detik.com menunjukkan Nomor yang cukup tajam, selain 35% Gen Z melakukan doom spending, sejauh 32% responden juga melaporkan bahwa mereka mengambil utang lebih banyak selama enam bulan terakhir akibat perilaku impulsif ini. Data lainnya dari sumber yang sama mengatakan bahwa 53% Gen Z merasa kenaikan biaya hidup jadi hambatan Esensial dalam mencapai keberhasilan finansial, yang menjadi salah satu pemicu doom spending.

Akibat Doom Spending Bagi Gen Z

Fenomena ini punya dua sisi. Dari sisi positif, konsumsi Gen Z Bisa membantu menjaga pertumbuhan ekonomi karena mereka menjadi Golongan yang sangat aktif berbelanja, terutama pada sektor ritel, makanan dan minuman, serta hiburan digital. Bagi pelaku bisnis, ini memberikan Kesempatan besar Buat Lanjut berinovasi dan memenuhi kebutuhan pasar anak muda.

Baca Juga:  Simak Pergerakan Jumlah Penumpang Angkutan Udara di Indonesia Mei 2025

Tetapi, sisi negatifnya Bukan Bisa diabaikan. Doom spending dapat menimbulkan beban keuangan yang cukup berat. Karena 32% responden melaporkan mengambil utang akibat doom spending, banyak Gen Z yang akhirnya Mempunyai utang paylater atau cicilan digital tanpa perhitungan matang.

Tabungan juga cenderung tipis karena Pendapatan habis Buat belanja impulsif. Secara psikologis, perilaku ini Bisa menjadi siklus yang berbahaya, dari mulai munculnya kecemasan, Lampau belanja Buat merasa lebih Berkualitas, Lampau muncul stres baru karena Doku habis atau utang menumpuk. Siklus ini Bisa merusak stabilitas keuangan dan mental dalam jangka panjang.

Baca juga: Gen Z Penguasaan Perokok Indonesia, Vape Jadi Gaya Hidup Baru?

MensDaily hadir di tengah kesibukan dan tuntutan hidup, pria butuh ruang untuk mendengarkan, mengemukakan pendapat, dan mendapatkan inspirasi.

Get Latest Updates and big deals

    Mens Daily @2025. All Rights Reserved.