ATM atau Anjungan Kas Berdikari adalah mesin elektronik perbankan Mekanis yang berfungsi Demi melakukan transaksi keuangan seperti penarikan Kas, penyetoran, transfer Anggaran, hingga pengecekan saldo.
ATM pertama kali muncul di Indonesia pada tahun 1987 Punya PT Bank CIMB Niaga. Semenjak Begitu itu, berbagai perusahaan perbankan mengeluarkan mesin ATM masing-masing Demi menunjang nasabahnya melakukan transaksi.
Meski lekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, jumlah mesin ATM di Indonesia mengalami penyusutan seiring berjalannya waktu. Penurunan ini diperkirakan diakibatkan oleh perubahan kebiasaan nasabah perbankan di era digital Begitu ini.
Penyusutan jumlah unit ATM di Indonesia telah tercatat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Laporan Surveillance Perbankan Indonesia (LSPI) yang diterbitkan tiap triwulan tahun.
Baca Juga: Jumlah Mesin ATM di Indonesia Maju Menyusut 5 Tahun Terakhir
Menurut data jumlah terminal perbankan elektronik (ATM/CDM/CRM) setiap Kuartal III tahun 20201-2025, terjadi penurunan jumlah mesin ATM Sekeliling 1.000 unit setiap tahunnya.
Pada tahun 2021, jumlah ATM yang tersebar di Indonesia berada pada Bilangan 95.188. Tetapi pada tahun 2022, Bilangan tersebut berkurang menjadi 93.825, turun 1.363 unit dari tahun sebelumnya.
Pola penyusutan ini Maju berlangsung di tahun-tahun kedepannya. Pada 2023, jumlah ATM yang beredar sebelumnya sebanyak 92.829, Tetapi berkurang pada 2024 menjadi 91.173 unit.
Kemudian pada 2025, OJK mencatat jumlah mesin ATM yang tersisa di Indonesia sebanyak 89.774 unit. Kalau ditinjau dari 5 tahun kebelakang, jumlah ATM di Indonesia sudah berkurang sebanyak 5.464 unit.
Apakah Penyusutan ATM Diakibatkan Perilaku Cashless?
Dilansir dari Detik Finance, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae mengatakan tren penurunan jumlah ATM di Indonesia diprediksi Tetap akan Maju berlanjut ke depannya.
Tiap perusahaan bank Mempunyai keputusan bisnis masing-masing dalam mengurangi jumlah ATM. Tetapi, Eksis beberapa Elemen yang dilihat Bisa jadi penyebabnya.
Menurut Dian, penyusutan jumlah ATM yang beredar di indonesia merupakan imbas dari adopsi teknologi di bidang keuangan. Gaya hidup, perilaku, ekspektasi, dan kebutuhan masyarakat terhadap layanan keuangan bank mulai berubah seiring berkembangannya teknologi.
Dian mengatakan, transaksi keuangan non-Kas atau cashless yang semakin meluas di masyarakat menjadi salah satu Elemen penyusutan ATM.
Perilaku masyarakat cashless sendiri berasal dari adopsi teknologi digital dalam layanan perbankan, yang memungkinkan nasabah menggunakan layanan Bilaman saja dan di mana saja.
Kemudahan dalam mengakses layanan perbankan, serta meningkatnya pembayaran non-Kas di masyarakat menyebabkan penggunaan mesin ATM semakin berkurang.
Selain itu, Dian juga Menonton penyusutan ATM merupakan bentuk efisiensi operasional perbankan dengan mengurangi biaya infrastruktur fisik dan optimalisasi proses layanan. Perubahan Konsentrasi ini Membangun perusahaan meningkatkan akses layanan digital yang semakin marak digunakan oleh publik.
Baca Juga: Di mana Kartu ATM dan Debit Paling Banyak Beredar?
Sumber:
https://ojk.go.id/id/kanal/perbankan/data-dan-statistik/laporan-profil-industri-perbankan/default.aspx


